Home » » Pengendalian Infeksi Nosokomial yang harus dilengkapi.

Pengendalian Infeksi Nosokomial yang harus dilengkapi.

Written By Rijomac on Friday, May 3, 2013 | 10:55 AM

Tulisan ini dipublikasikan setelah membaca Pengendalian Infeksi Nosokomial di RS Dr. Cipto Mangunkusumo dengan Sumber Daya Minimal kalau tidak salah dituliskan oleh Robert Utji
Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Berikut ini artikelnya,

PENDAHULUAN
Infeksi Nosokomial (INOK) merupakan masalah yang besar di setiap Rumah Sakit. Apalagi di Rumah Sakit yang jumlah penderita yang dirawatnya banyak dengan tenaga perawatnya masih terbatas. Keadaan seperti ini akan mengakibatkan prinsipprinsip higiene kurang mendapatkan perhatian. Di Amerika Serikat dilaporkan INOK mencapai 5% per tahun bahkan mungkin lebih lagi, dengan angka mortalitas1%0); bagaimana di RS Dr. Cipto Mangunkusumo? Sebagai ilustra'si di RSCM telah dilakukan surveilans terbatas selama 6bulan (1990) dengan hasil sebagai berikut : insiden berkisar antara 0 – 14,4% dan angka yang tertinggi INOKnya di Bagian Parasitologi dengan Sepsis(2).

Rumah sakit dan profesi kesehatan mempunyai tanggung jawab moral untuk to do the patient no harm. Ini dapat terlaksana dengan memberikan pelayanan kepada setiap penderita dengan standar profesi tertinggi. Standar profesi ini adalah dalam program yang disusun dan dilaksanakan oleh PPIN seperti surveilans,
pendidikan nosokomial kepada tenaga kesehatan, pelacakan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan sebagainya. Idealnya semua program yang disusun dijalankan secara utuh, tetapi menuntut dana yang besar; bagaimana dengan sumber daya minimal?

Dalam uraian berikut ini kita akan perhatikan masing -masing komponen program PPIN.

ORGAMSASI PPIN Organisasi PPIN adalah bersifat lintas sektoral dan terintegrasi di antara banyak disiplin pelayanan seperti dokter ahli penyakit infeksi, administrasi Rumah Sakit, Perawat Pengendali Infeksi
(Infection Control Nurse), ahli mikrobiologi, ahli bedah, Farmasi Rumah Sakit, Unit Sterilisasi Sentral, Bagian Rumah Tangga Rumah Sakit dan sebagainya. 

Tujuan PPIN yang paling utama adalah mencegah terjadinya infeksi pada penderita di Rumah Sakit dan juga tenaga kesehatan(3). Ketua PPIN adalah seorang Klinikus ahli penyakit infeksi yang juga memperdalam pengetahuan epidemiologi dan mikrobiologi. Ketua PPIN harus diberi wewenang untuk mengambil
keputusan penting yang berhubungan dengan INOK.

Jabatan Ketua tidak boleh terlampau singkat mengingat program-program PPIN tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Di dalam organisasi diperlukan juga seorang yang secara khusus menangani soal dana untuk program serta kelancaran pelaksanaannya. Tugas PPIN adalah melaksanakan surveilans, menentukan kebijakan-kebijakan dan cara-cara pencegahan infeksi.

Surveilans
Surveilans adalah pengamatan yang seksama pada waktu tenentu terhadap penderita yang dirawat di rumah sakit, tenaga kesehatan atau lingkungan rumah sakit untuk memperoleh data untuk ditabulasi dan dianalisa. Surveilans akan memberikan gambaran tentang INOK atau suatu KLB. Di RSCM surveilans terhadap penderita yang dirawat sudah berjalan rutin secara Minis untuk memantau risiko infeksi penderita operasi, infus, kateter. Surveilans mikrobiologi belum rutin dilakukan terhadap penderita kecuali penderita luka bakar,
dan lingkungan seperti di IGD, ruang rawat TST, dan ICU. Surveilans mikrobiologi penting untuk mengetahui sumber penyebab INOK sehingga langkah-langkah pengendalian dan pencegahan.

Buku Panduan
Segala keputusan PPIN sebaiknya dituangkan di dalam sebuah buku panduan untuk setiap unit di Rumah Sakit. Buku ini harus menjadi pedoman untuk diketahui dan dilaksanakan oleh para tenaga kesehatan.
Isi buku ini memberikan petunjuk-petunjuk praktis seperti petunjuk tentang cara cuci tangan yang baik; cuci tangan biasa untuk merawat penderita tanpa tindakan invasif hanya perlu air mengalir dan sabun; untuk tindakan invasif seperti pemasangan infus, kateter dan sebagainya, cuci tangan dengan air mengalir,
sabun dan desinfekt.an. Apakah cuci tangan untuk tindakan operatif harus pakai sikat, sabun air mengalir, desinfektan alkohol dan waktu cuci tangan yang lebih lama. Prioritas PPIN harus melaksanakan banyak program; supaya efisien dan efektif harus ditentukan prioritas. Berikut ini sebuah contoh prioritas untuk langkah awal, lanjut sebuah rumah sakit dan prioritas untuk macam-macam rumah sakit.

EPIDEMIOLOGI
Untuk pelaksanaan pengendalian dan pencegahan perlu diketahui epidemiologi INOK. Kita akan melihat 3 faktor yang bersama-sama menentukan terjadinya INOK. Di dalam menentukan skala prioritas untuk melakukan pengendalian, kita harus dapat tentukan faktor yang paling utama.

Sumber
Sumber infeksi dapat berupa kuman, virus, protozoa dan parasit yang terdapat di alam. Bahkan manusia sehat juga penuh dengan kuman yang dianggap normal. Untuk penderita yang imunokompromi, kuman normal pun dapat menjadi patogen karena daya tahan tubuh yang berkurang. Lingkungan kita terkenal
dengan sumber kuman patogen yang paling besar. Bila PPIN akan mengawasi semua sumber kuman dengan jalan memantau secara rutin, biayanya akan sangat besar dan tidak praktis.

Penderita
Penderita selalu menjadi sasaran benih penyakit karena biasanya keadaan tubuh yang lemah. Langkah pertolongan yang diberikan rumah sakit dalam perawatan penderita serba sulit karena perawatan yang berlebihan akan meninggikan risiko infeksi dan perawatan yang kurang akan melemahkan daya tahan
penderita. Dalam pengendalian INOK, penderita harus menjadi obyek yang paling utama : to do the patient no harm. Kita harus cepat dapat menanggulangi atau mencegah infeksi dari luar maupun dari dalam. Keadaan yang paling optimal adalah kalau penderita dirawat secara khusus seperti di isolasi atau dilayani khusus oleh perawat tertentu.

Cara Penularan
Cara penularan melalui tenaga perawat ditempatkan sebagai penyebab yang paling utama INOK. Penularan melalui tangan perawat dapat secara langsung karena tangan yang kurang bersih atau secara tidak langsung melalui peralatan yang invasif. Dengan tindakan mencuci tangan secara benar saja, INOK dapat dikurangi 50%t`l. Peralatan yang kurang steril, air yang terkontaminasi kuman, cairan desinfektan yang mengandung kuman, sering meningkatkan risiko INOK.

KESIMPULAN
Sekarang pertanyaan yang penting yang perlu dijawab :
Bagaimanakah Rumah Sakit dapat melakukan pengendalian INOK dengan sumber daya yang minimal ?
1. Tujuan pengendalian harus diprioritaskan kepada penderita terlebih dahulu dan tidak pada tenaga kesehatan.
2. Untuk memutuskan mata rantai infeksi, prioritas utama adalah pada tenaga perawat dengan jalan mengubah perilaku menjadi lebih aseptik dan menjalankan peraturan-peraturan dalam buku panduan secara konsekuen.
3. Surveilan penderita harus dibarengi dengan surveilan bakteriologik supaya dapat ditemukan sumber infeksinya.

KEPUSTAKAAN
1. Castle M, Ajemian E. Hospital Infection Control. Principle and Practice. 2nd ed. New York: Wiley Medical, 1987. hal 1-4.
2. Made Nursari. Laporan Surveilans Nosokomial. RSCM, 1990.
3. La Force FM. The Hospital Infection Control Committee. A personal view. Hosp. Pract. 1977; 12(1): 135.
4. Steere AC, Mallison GF. Hand washing practices for the prevention of nosocomial infections. Ann. Intern. Med. 1971; 83: 683.

0 comments :

Post a Comment

Powered by Blogger.

Contact

PT RIJOMAC SEMBILAN SEMBILAN
Cellphone : 0818704677
Email : machfudbox,@gmail.com
Email : rijomac.system,@gmail.com

Visitor

Followers